This nice Blogger theme is compatible with various major web browsers. You can put a little personal info or a welcome message of your blog here. Go to "Edit HTML" tab to change this text.
RSS

Rabu, 13 Januari 2010

SOICHIRO HONDA


Kisah Soichiro Honda
Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi
kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan
dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…
Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Mata kita seringkali tertuju pada salah satu merek ternama, baik berupa mobil maupun motor. HONDA. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.
Namun, tahukah kamu siapakah sang pendiri “kerajaan”???
Honda – Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang
gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie,
mantan Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang.
Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.
“Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tuturnya. Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda.
Di bengkel,ayahnya memberi cathut untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yangmenjadi motor penggeraknya.Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang. Ternyata, minatnyapada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki.Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah,tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri. Di usia 15 tahun,Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company.Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yangmencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enamtahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan.Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantorcabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepatmemperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jamkerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetapkreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baikmeredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam.Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialisapa yang dipilih?Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.
Kuliah
Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel,mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.”Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. KepadaRektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyotamemberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Ehmalangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal darisekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya.Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasukIndonesia. Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalammenggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yangdialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi,mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi,mimpikanlah mimpi baru.Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin.

Semangat...!!!


PAGI INI, AKU HARUS SEMANGAT!

Walau semalam aku tak dapat menutup mata

Karena pikiran yang tak mau lelah

Aku memaksa mata untuk memejam

Tapi pikirku tetap melayang

Hitam berganti kokok ayam

menandakan pagi

Mata berkantung tanda belum dipejamkan

Tubuh seakan ingin ambruk

Tapi harus kuat

Karena aku ingat tugas

Untuk anak-anakku tercinta

Yang slalu menungguku dengan ceria

Pagi ini, aku harus semangat!

Minggu, 03 Januari 2010

Sang Pemimpi


Hari ini, meskipun mungkin kata orang sudah agak ketinggalan saya bisa pergi ke bioskop. Film ini membuat saya penasaran. Walaupun sudah membaca novelnya sebelumnya. Ada suatu harapan bahwa saya bisa mengambil sesuatu dari kisah di film ini. Seperti halnya waktu saya membaca novelnya. "Sang Pemimpi" menjadi sebuah inspirasi buat saya. Betapa tidak, ceritanya yang berlatar pengalaman pribadi penulisnya bisa memberikan motivasi bagi banyak orang. Bisa membakar semangat orang-orang yang keyakinan hatinya sedang goyah karena takut gagal. Atau bahkan bagi orang-orang yang untuk bermimpi saja mereka takut, "Sang Pemimpi" bisa menjadi penyemangat.
Kisah anak-anak yang tinggal di kota kecil. Mereka berjuang hingga akhirnya bisa mewujudkan apa yang kata orang tidak mungkin, menjadi mungkin. Berawal dari mimpi, yang tentunya mereka upayakan untuk terwujud melalui tindakan, usaha yang keras dan tentu saja do'a.
Mereka tidak gentar, pantang menyerah untuk mewujudkan mimpi mereka. Walaupun berasal dari keluarga sederhana bahkan bisa dikatakan miskin, mereka tidak malu. Mereka tidak mau dipandang sebelah mata. Mimpi mereka besar. Keyakinan hati meneguhkan mimpi mereka. Bahwa itu semua pasti akan terwujud. Subhanallah...!!!
Teruntuk anak-anakku terkasih...dimanapun kalian berada. Anak-anak Indonesia yang hebat... Kalian adalah mutiara kemilau bangsa di masa depan. Jadilah anak-anak yang tidak mudah menyerah, jadilah anak-anak yang selalu mau berusaha dan belajar, anak-anak yang selalu ceria dan optimis menghadapi masa depan. Jangan takut bermimpi, karena berawal dari mimpi segala asa dan cita-cita akan kita raih. Belajar, Berusaha, Berdo'a...:)

Jumat, 01 Januari 2010

Sensasi Suramadu


Wow...takjub! itu yang saya rasakan ketika pertama kali melewati jembatan ini. Bagaimana tidak? dari Bandung jauh-jauh saya bersama keluarga niat sekali untuk "mencicipi" jembatan fenomenal ini. Sepanjang perjalanan menuju ke sana perasaan excited melingkupi hati kami.
Tapi sebenarnya dalam hati kami ada perasaan ciut. Hahaha...bagaimana tidak? bukan hanya karena ini pertama kali. Tetapi kami membayangkan bahwa di bawah kami nanti adalah laut lepas. Belum lagi kami teringat berita di TV yang mengatakan bahwa baut dan mur di jembatan Suramadu banyak yang diambil oleh orang yang tak bertanggung jawab.
Ya Allah... bagaimana ini? semakin dekat kami semakin diliputi rasa takut. Tetapi tetap penasaran. Memasuki gerbang Suramadu, kami semua berdo'a. Bismillahirrahmanirrahiim..mobil berjalan pelan-pelan. Ahamdulillah, sedikit demi sedikit rasa takutpun menghilang, dan kami mulai meikmati perjalanan ini. Sepanjang jembatan Suramadu...kami menikmati pemandangan laut yang elok dan angin laut yang bertiup kencang. Hmmm...sensasi luarrr biasaa!!!

Kebiasaan??


Ini cerita perjalanan waktu liburan kemarin. Bersama keluarga, saya berkesempatan melakukan perjalanan ke beberapa daerah. Marathon memang... tapi saya begitu menikmati. Sepanjang jalan banyak hal baru yang saya temukan. Pemandangan, kuliner, bahkan kebiasaan penduduk dari tempat yang saya kunjungi. Di kota pertama yang sempat saya singgahi waktu itu ada sesuatu hal yang membuat saya sedikit mengerutkan dahi (heran), mengelus dada (miris) sekaligus ada perasaan bertanya-tanya.
Pagi itu karena kami belum sarapan, kami memutuskan untuk mampir di salah satu rumah makan sederhana. Setelah memesan, sambil menunggu kami mengobrol. Di tengah kami asyik mengobrol tiba-tiba datanglah segerombolan orang. Kami pikir mereka adalah para petani yang akan pergi ke sawah beramai-ramai. Ternyata perkiraan kami salah. Mereka datang meminta uang. Sebelum diberi mereka tidak akan pergi. Akhirnya sang pemilik rumah makan memberikan uang. Mereka pergi ke tempat yang lain. Tak lama kemudian, datang lagi sekelompok orang yang lain. Mereka melakukan hal yang sama meminta uang.
Sampai pada saat kami pergi meninggalkan rumah makan tersebut secara bergantian dan berkelompok mereka datang meminta uang.
Diliputi rasa penasaran, saya bertanya pada sang pemilik Rumah makan. "Mbak, mereka ngapain yah?" jawab mbak-nya "iya, biasa setiap jum'at mereka akan berkeliling seperti itu! Tapi jum'at saja" Oh lala...sampai saya meninggalkan tempat makan tersebut banyak pertanyaan masih ada di kepala saya. Kok begitu? Kebiasaan ya? kenapa ya? hmmm...harus dicari pemecahannya...